mini-sl

Download Kumpulan Skripsi Lengkap:

Skripsi Farmasi OPTIMASI DAN VALIDASI METODE ANALISIS RABEPRAZOL DALAM PLASMA IN VITRO SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI . Dibawah ini adalah tujuan penelitian, alat, bahan dan cara kerja yang dilakukan dalam penelitian ini

Tujuan Penelitian

  1. Memperoleh kondisi optimum untuk analisis rabeprazol dalam plasma in vitro secara kromatografi cair kinerja tinggi.
  2. Melakukan validasi terhadap metode yang dipakai untuk analisis rabeprazol dalam plasma in vitro secara kromatografi cair kinerja tinggi.

Alat dan Bahan
Alat
Kromatografi cair kinerja tinggi (LC-10AD VP, Shimadzu) dilengkapi dengan Penghilang Gas (DGU-12A VP, Shimadzu), Pengendali Sistem (SCL- 10A VP, Shimadzu), Detektor UV (SPD-10A VP, Shimadzu), Oven Kolom (HPLC Oven TC 1900), injektor manual, kolom C18 Kromasil® 100-5 (250 x 4,6 mm, 5μm) dan pengolah data pada komputer berupa perangkat lunak Class VP.

Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu UV 1601), Microsyringe (Hamilton), Timbangan analitik (Analytical Balance AND GR-202), Filter eluen 0,45 μm (Whatman), Penghilang Gas (Elma S40H Elmasonic), Sentrifugator (DSC-300SD), Vortex (Maxi Mix II-Barnstead), Mikropipet (Socorex Acura 825), Evaporator (TurboVap LV), Blue tip dan Yellow tip, Tabung sentrifus Mikrotube, dan alat-alat gelas.

Bahan
Rabeprazol (Vasudha Pharma Chem Limited), Pantoprazol (Quimica Sintetica), Asetonitril (Merck), Metanol (Merck), Dietil amin (Merck), Dietil eter (Merck), Diklorometan (Mallinckrodt), Natrium dihidrogen fosfat (Mallinckrodt), Natrium hidroksida (Mallinckrodt), Aquabidestilata (Widatra), Plasma darah (PMI).

Cara Kerja
Pembuatan Larutan

a. Pembuatan Fase Gerak
Fase gerak dibuat sebanyak 500 mL dengan komposisi 50 mM natrium dihidrogen fosfat pH 7,2 – asetonitril (55:45). Sebanyak 275 mL 50 mM natrium dihidrogen fosfat pH 7,2 dicampur dengan 225 mL asetoni t ri l dan disaring dengan menggunakan vakum dan filter 0,45 μm. Kemudian dihilangkan gas yang terdapat di dalam larutan tersebut menggunakan sistem penghilang gas (degasser).

b. Pembuatan Larutan Induk Rabeprazol dan Larutan Uji
Senyawa baku rabeprazol ditimbang dengan seksama 25,0 mg kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 25,0 mL dan dilarutkan dengan metanol yang mengandung 0,1% dietilamin sampai batas labu ukur. Dietilamin ditambahkan karena rabeprazol sangat mudah terurai oleh asam. Diperoleh larutan senyawa baku dengan konsentrasi 1 mg/mL. Pengenceran dilakukan untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi tertentu.

c. Pembuatan Larutan Induk Pantoprazol dan Larutan Uji
Senyawa baku rabeprazol ditimbang dengan seksama 25,0 mg kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 25,0 mL, kemudian dilarutkan metanol yang mengandung 0,1% dietilamin sampai batas labu ukur. Diperoleh larutan senyawa baku dengan konsentrasi 1 mg/mL. Pengenceran dilakukan untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi tertentu.

d. Pembuatan Larutan Dapar Fosfat 50 mM pH 7,2
Ditimbang seksama lebih kurang 3,4 gram natrium dihidrogen fosfat monohidrat, kemudian dilarutkan dengan 400 mL aqua bidestilata, lalu pH diatur dengan penambahkan NaOH 1 N hingga pH 7,2, kemudian ditambahkan aqua bidestilata hingga 500 mL.

Tahapan Penelitian
Penetapan Panjang Gelombang Optimum Analisis
Dibuat larutan induk rabeprazol lalu diencerkan dengan metanol (mengandung 0,1% dietilamin) hingga diperoleh konsentrasi 10,0 μg/mL. Larutan tersebut diukur nilai serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan kemudian dibuat kurva serapannya. Nilai panjang gelombang optimum dipilih untuk analisis.

Optimasi Kondisi Analisis Rabeprazol
Pemilihan komposisi fase gerak
Larutan rabeprazol yang mengandung rabeprazol 1 g/mL disuntikan sebanyak 20,0 L ke alat KCKT dengan fase gerak 50 mM natrium dihidrogen fosfat pH 7,2 – asetonitril (70:30) sebagai kondisi awal. Lalu dilakukan modifikasi komposisi fase gerak (60:40), dan (55:45). Laju alir yang digunakan sebesar 0,5 mL/menit dan hasil elusi dideteksi pada panjang gelombang analisis. Catat waktu retensi, nilai N, HETP, dan faktor ikutan yang diperoleh. Bandingkan hasil analisisnya yang diperoleh antara ketiga komposisi fase gerak.

Penentuan Waktu Retensi Baku Dalam
Dibuat larutan standar pantoprazol dengan konsentrasi 1,0 g/mL kemudian masing-masing disuntikan sebanyak 20,0 L ke alat KCKT dengan fase gerak dan laju alir terpilih. Catat waktu retensi dari pantoprazol. Kemudian larutan rabeprazol yang mengandung rabeprazol 1 g/mL ditambahkan larutan induk pantoprazol yang telah diencerkan dengan metanol yang mengandung 0,1% dietilamin hingga konsentrasi 1 g/mL.

Suntikan larutan sebanyak 20,0 L ke alat KCKT dengan fase gerak dan laju alir terpilih. Diperoleh waktu retensi rabeprazol dan pantoprazol. Dihitung nilai resolusi (R) setiap zat terhadap baku dalam.

Pemilihan Kecepatan Aliran Fase Gerak untuk Analisis
Larutan yang mengandung rabeprazol dengan konsentrasi 1,0 g/mL dan pantoprazol 1,0 g/mL disuntikan sebanyak 20,0 L ke alat KCKT dengan fasegerak terpilih. Laju alir yang digunakan adalah 0,5 mL/menit sebagai kondisi awal kemudian divariasikan menjadi 0,8 mL/menit dan 1,0 mL/menit. Catat dan bandingkan waktu retensi, nilai N, HETP, resolusi (R), dan faktor ikutan (Tf) yang diperoleh.

Optimasi Penyiapan Sampel
Sebanyak 0,5 mL plasma yang mengandung rabeprazol dengan konsentrasi tertentu dimasukkan ke dalam tabung sentrifus. Selanjutnya, ditambahkan 50 μL baku dalam pantoprazol (5,0 μg/mL) dan dikocok dengan vortex selama 10 detik.

Kemudian dilakukan optimasi penyiapan sampel meliputi optimasi pH larutan natrium dihidrogen fosfat, optimasi komposisi cairan pengekstraksi, waktu pengocokkan dengan vortex, dan waktu sentrifugasi. Plasma dalam tabung sentrifus tersebut ditambahkan 200 μL larutan dapar 50 mM natrium dihidrogen fosfat dengan pH yang dioptimasi.

Pada tahap optimasi pH larutan 50 mM natrium dihidrogen fosfat, dilakukan variasi pH yaitu pada pH 5,0 ; 6,0 ; 7,0 ; dan 8,0. Kemudian ditambahkan 4 mL cairan pengekstraksi dan dilakukan optimasi komposisi cairan pengekstraksi yang terdiri dari campuran dietil eter-diklorometan. Variasi komposisi yang dibuat adalah 60:40, 70:30, dan 90:10.

Setelah itu, dilakukan optimasi waktu pengocokkan dengan vortex. Plasma yang telah ditambahkan cairan pengekstraksi tersebut dikocok menggunakan vortex dengan waktu pengocokan yang divariasikan yaitu 1, 2 dan 3 menit. Sebanyak 3 mL lapisan organik diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.

Kemudian dilakukan sentrifugasi dengan waktu yang divariasikan, yaitu 5 menit, 8 menit, dan 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Kemudian lapisan organik diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu diuapkan menggunakan gas nitrogen suhu 30 oC. Ekstrak kering yang dihasilkan kemudian direkonstitusi dengan 200 μL metanol yang mengandung 0,1% dietil amin dan dikocok menggunakan vortex selama 10 detik. Sebanyak 20 μL aliquot disuntikkan ke dalam alat KCKT.

Demikian tadi adalah tujuan penelitian, alat, bahan dan cara kerja yang dilakukan dalam Skripsi Farmasi OPTIMASI DAN VALIDASI METODE ANALISIS RABEPRAZOL DALAM PLASMA IN VITRO SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI ini. Semoga memberi inspirasi judul skripsi yang akan dijadikan penelitian.

 

Dapatkan koleksi 5.500 skripsi super lengkap dan berkualitas mulai dari cover, halaman pendahuluan, BAB I s.d BAB VI, penutup, lampiran, sampai daftar pustaka untuk semua jurusan. Silahkan lihat atau klik di sini.

Filed under: Farmasi

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!